INILAH.COM, Jakarta - PT General Motors Autoworld Indonesia (GMAI) menegaskan bahwa pihaknya saat ini berada dalam keadaan yang sangat baik dan tidak terpengaruh dengan kebangkrutan perusahaan induk General Motors Corp yang berbasis di kota Detroit, Amerika Serikat (AS).
“Ada empat region yang ditetapkan, yaitu Asia-Pasific, Amerika Latin dan Middle East, Amerika Serikat dan Eropa. Nah, yang dinyatakan bangkrut itu yang di Amerika Serikat (AS),” ujar Managing Director GMAI Mukiat Sutikno di sela acara Taxi Gathering Chevrolet Lova, Jumat (17/4) di di Blitz Megaplex Grand Indonesia, Jakarta.
Mukiat menambahkan bahwa secara operasional, antara keempat region itu terpisah. “Misalnya, untuk kawasan Asia-Pasific, Indonesia termasuk di dalamnya, kontrol dikendalikan dari Shanghai Cina. Untuk produk-produk yang dipasarkan juga tak mengambil dari Amerika Serikat. Indonesia sendiri ambil produk dari Korea Selatan dan Thailand,“ ujarnya.
Mukiat menekankan bahwa pihaknya akan tetap melakukan sejumlah langkah yang dianggap perlu. Misalnya saja, dengan memperkenalkan mobil baru pada tahun ini.
GM di Indonesia akan tetap melayani pelanggan di seluruh Indonesia, tetap membangun merek Chevrolet di Indonesia, serta selalu memperluas jaringan dealer 3S di seluruh Indonesia dan terus meningkatkan kepuasan pelanggan dalam pelayanan purna jual.
Secara penjualan, GM di Indonesia sepanjang tahun 2008 telah mencatat angka pertumbuhan yang fantastis dibanding tahun yang sama sebelumnya yakni 118,41 %. Secara total sampai bulan Oktober 2008, GMAI telah berhasil membukukan penjualan sebesar 2.302 unit. GMAI berhasil membukukan angka penjualan selama setahun sebesar 1400-an unit.
Bukti lainnya yang dikedepankan oleh GMAI dalam komitmen mereka untuk eksis di industri otomotif nasional adalah ketika Presiden General Motors (GM) Asia Pacific Nick Reilly datang berkunjung ke kantor pusat dan pabrik perakitan GMAI di Pondok Ungu, Bekasi, awal tahun ini.
Nick hadir bersama Steve Carlisle President GM ASEAN untuk melihat langsung kondisi GM di Indonesia khususnya dan industri otomotif Indonesia secara umum.
Nick Reilly bersama jajarannya meninjau langsung fasilitas perakitan GM Indonesia di Pondok Ungu, Bekasi, yang sudah tidak beroperasi sejak tahun 2005. Fasilitas perakitan GM Indonesia tersebut di era tahun 1990’an hingga 2005 sempat merakit Opel Optima, Opel Vectra, Opel Blazer dan Chevrolet Blazer.
GMAI dalam keterangan resminya saat itu mengatakan bahwa pihaknya terus mengkaji dan melakukan studi seputar reaktivasi fasilitas perakitannya di Pondok Ungu. Dan terus mengeksplorasi kemungkinan untuk kembali merakit model mobil terbaru Chevrolet di Indonesia.
Padahal, perusahaan induknya, General Motors Corporation di Amerika Serikat saat ini masih di ujung tanduk.
Departemen Keuangan AS mengarahkan produsen mobil General Motors untuk memasukkan dokumen mengenai kebangkrutannya paling lambat 1 Juni mendatang.
Demikian dilaporkan oleh The New York Times edisi Minggu (12/4). GM beroperasi di bawah bantuan dana darurat dari Pemerintah AS. Tim ekonomi Obama telah mengatakan bahwa dengan adanya dana talangan tersebut, GM harus memangkas pengeluaran serta utangnya untuk terus dapat menerima bantuan pemerintah.
Gugus tugas yang ditunjuk Gedung Putih telah memberikan waktu selama 60 hari kepada GM untuk menyerahkan rencana restrukturisasi dan berupaya menentukan apakah produsen mobil itu layak dipertahankan.
The Times mengungkapkan, tujuannya adalah mempersiapkan operasi kebangkrutan dengan cepat.
Koran itu juga menyebutkan, persiapan tersebut bertujuan meyakinkan bahwa pengajuan kebangkrutan GM telah siap jika perusahaan itu tidak dapat mencapai kesepakatan dengan para pemegang obligasi dan Persatuan Pekerja Otomotif. Obligasi GM sekitar 28 miliar dollar AS.
Pertengahan November 2008, diberitakan bahwa tiga perusahaan pembuat mobil terbesar di AS, yakni General Motors, Ford, dan Chrysler, memerlukan dana talangan sebesar 25 miliar dollar AS untuk menyehatkan kembali keuangan mereka akibat deraan krisis keuangan yang melanda AS. Namun, permintaan dana talangan sebesar 25 miliar dollar AS itu terhambat karena mendapatkan tentangan keras dari Kongres AS.
Banyak kalangan yang percaya bahwa Pemerintah AS pada akhirnya akan bersedia membantu ketiga perusahaan pembuat mobil itu untuk mengatasi kesulitan keuangan yang dihadapi. Tunggu perkembangan berikutnya hanya di inilah.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar